Pages

Senin, 10 Juni 2013

contoh proposal

Jakarta,  December 2011
Perihal     : Proposal permohonan bantuan dana.
Lamp       :
Kepada Yth:
Para DONATUR warga Rt.003 / 06
Di
Tempat
Dengan hormat,
Dengan mengucapkan puja-puji rasa syukur kita panjatkan serta kita hanturkan kehadirat Allah SWT,yg mana telah memberikan kita rizky yang melimpah serta kesehatan yang begitu sangat berharga,sehingga kita dapat menjalankan perintahNYA dan menjalankan kegiatan kita sehari-hari dengan penuh rahmat serta barokahNYA.
Bersama ini pula kami sebagai ketua RT 003/06 setempat serta tokoh-tokoh masyarakat yang ada di sekitar kita maupun para remaja putra dan putri yang ada di RT 003/06, ingin menyampaikan bahwa kami bermaksud untuk membuat memperingati acara tahun baru di wilayah kita dengan mengadakan acara pembacaan doa bersama serta acara bakar-bakar ayam,bakar ikan,jagung dan lain-lain.
Maka kami dengan ini bermaksud memohon bantuan dana serta kebijaksanaan dari para donator-donatur yang saya hormati yang mana dana tersebut untuk mempelancar memperingati atau memeriahkan acara tahun baru di wilayah lingkungan Rt.003 / 06.
Akhir kata atas nama ketua RT serta para tokoh-tokoh masyarakat para remaja putra-putri yang ada dilingkungan RT.003/06, mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan partisipasinya untuk membantu kegiatan tersebut.
           Hormat kami
Ketua Remaja RT.003 /06                                                                                                                          Tokoh Masyarakat


        ( Riadi )                                                                                                                                                   ( Triyana )
           Mengetahui
       Ketua RT.003 /06


          ( Abdullah )

Adapun jumlah pengeluaran yang akan diperkirakan sebagai berikut: :
1.       Pembelian ayam            : 30 ayam          x  Rp.30.000     = Rp.900.000
2.       Pembelian ikan              : 15 kg              x  Rp.15.000     = Rp.225.000
3.       Jagung bakar                 :  200 jagung     x  Rp.   2.500    = Rp.500.000
4.       Tempat makan plastic    :  200tempat      x  Rp.   1.500    = Rp.300.000
5.       Tempat minum plastic    :  200tempat      x  Rp.   1.000    = Rp.200.000
6.       Nasi                             :  15liter                        x  Rp.   5.000    = Rp.  75.000
7.       Sayuran/lalapan             :                                               = Rp.150.000
8.       Buah-buahan                 :                                               = Rp.200.000
9.       ES buah                        :                                               = Rp.200.000
10.   Tak terduga                   :                                               = Rp.150.000
===========+


Total                            = Rp.2.900.000

Terbilang: ( “ Dua juta Sembilan ratus ribu rupiah “ )





Mengetahui

      Ketua RT.003 / 06





( Abdullah )


Nb: Contact person number phone Ketua RT.003/06..” 085748931194 “

TEKNIK PENYUSUNAN PROPOSAL


Proposal adalah usulan kegiatan yang akan dilaksanakan, yang dituangkan secara rinci dan jelas guna meyakinkan para pihak yang diharapkan ikut berperan maupun mendukung kegiatan tersebut.
Dalam penyusunan proposal, perlu melibatkan berbagai pihak terkait sehingga pada saat pelaksanaan kegiatan tidak terjadi konflik atau hal-hal lain yang tidak diinginkan. Para pihak tersebut meliputi : Perwakilan unsur kelompok, unsur atau tokoh yang berkepentingan dalam pelaksanaan kegiatan dan pendampingan kelompok bila ada.
LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PROPOSAL:
1. Identifikasi dan Pemilihan Kegiatan
Dilakukan melalui pertemuan kelompok dan mendiskusikan kegiatan yang akan dilaksanakan. Kegiatan tersebut ditentukan berdasarkan potensi yang dimiliki, permasalahan, dan kebutuhan kelompok. Hal ini dilakukan dengan membuatn daftar kegiatan yang dibutuhkan berdasarkan prioritasnya, kemudian dipilih dan ditetapkan kegiatan yang akan dibuat proposalnya.

2. Pembahasan Kegiatan yang Diusulkan
Setelah ditetapkan kegiatan yang akan dibuat proposalnya, dilakukan pembahasan untuk merinci kegiatan tersebut secara jelas yang meliputi :
 Jenis KegiatanF
 Maksud dan Tujuan Kegiatan
 Mengapa kegiatan tersebut diperlukan
 Tempat pelaksanaan kegiatan
 Waktu pelaksanaan kegiatan
 Pihak yang akan melaksanakan atau berperan serta dalam kegiatan
 Bagaimana melaksanakan kegiatan tersebut
 Ukuran keberhasilan kegiatan
 Biaya yang diperlukan dan sumber dananya (berapa bagian memerlukan bantuan, berapa bagian swadana)
 Monitoring dan evaluasi

3. Penyusunan Proposal
Proposal disusun berdasarkan hasil pembahasan pada butir 2 diatas. Bentuk proposal sangat beragam tergantung kebutuhan. Dalam hal ini biasanya proposal diajukan sesuai format yang diberikan oleh calon penyandang dana atau pihak pendukung kegiatan. Namur secara umum hal-hal yang harus termuat dalam proposal adalah sebagaimana diuraikan dalam batir 2 diatas. Yang perlu diingatkan adalah proposal yang dibuat harus bisa meyakinkan pihak terkait bahwa kegiatan tersebut memang benar-benar diperlukan., potencial untuk dilaksanakan dan memberikan manfaat positif baik bagi pelaksana maupun pihak terkait lainnya.
PENYUSUNAN PROPOSAL
Sistematika penyusunan proposal Sangat beragam, mulai dari yang ringkas dan sederhana ingá yang kompleks dan lengkap. Namur secara umum, proposal harus mencakup hal-hal sebagai berikut :

1. Nama Kegiatan
Nama kegiatan sebagai judul utama harus jelas dan bisa menggambarkan kegiatan yang akan dilakukan secara keseluruhan.
2. Pendahuluam
Pendahuluan berisi :
 Latar belakang : Uraian tentang mengapa kegiatan tersebut diperlukan.
 Maksud dan Tujuan Kegiatan : Uraian maksud dan tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan
Tersebut .
3. Tempat Pelaksanaan Kegiatan
Uraian tentang lokasi pelaksanaan kegiatan.
4. Waktu Pelaksanaan Kegiatan
Uraian tentang waktu pelaksanaan kegiatan. Disebutkan secara rinci dan jelas dengan jadwal pelaksanaan masing-masing bagian kegiatan.
5. Pihak Yang Akan Melaksanakan atau Berperan Serta Dalam Kegiatan
Uraian rinci tentang para pihak yang akan terlibat dalam kegiatan tersebut misalnya :
 Siapa penanggung jawab kegiatan tersebut ?
 Siapa pengelola dananya ?
 Siapa pelaksana lapangannya ?
 Siapa pemandunya ?
 Siapa pesertanya ?
 Instansi/pihak mana yang akan diminta bantuannya ?
 Dst

6. Bagaimana Melaksanakan Kegiatan Tersebut
Uraian tentang tahap-tahap pelaksanaan kegiatan sesuai dengan urutan berikut teknis/cara pelaksanaannya secara detil.

7. Ukuran Keberhasilan Kegiatan 
Uraian tentang ukuran atai kriteria dan indikator keberhasilan kegiatan.

8. Biaya yang Diperlukan dan Sumber Dana
Uraian tentang biaya yang diperlukan guna membiayai kegiatan. Disini harus dijabarkan secara rinci biaya yang diperlukan untuk setiap bagian kegiatan dan sumber dananya. Juga harus disebutkan secara jelas biaya yang diharapkan akan dibantu oleh calon penyandang dana, biaya swadana dan biaya yang dibiayai oleh sumber lainnya.

9. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan
Uraian tentang bagaimana kegiatan tersebut akan dimonitor dan dievaluasi pelaksanaan dan keberhasilannya. Disini juga harus dicantumkan secara jelas siapa yang akan memonitor dan mengevaluasi kegiatan yang dilaksanakan.
LEGALITAS PROPOSAL
Sebagai legalitas, proposal yang diajukan harus ditandatangani oleh Ketua Kelompok/Lembaga pengaju proposal. Bila perlu juga diketahui oleh pihak-pihak terkait yang mendukung kegiatan tersebut, misalnya Kepala Desa atau Instansi yang ada.


Selasa, 09 April 2013

METODE ILMIAH


PENGERTIAN METODE ILMIAH
Metode Ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
KARAKTERISTIK METODE ILMIAH
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan; pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat. Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol, seperti laboratorium, atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintangatau populasi manusia. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi. Pengukuran dalam karya ilmiah biasanya juga disertai dengan estimasi ketidakpastian hasil pengukuran tersebut. Ketidakpastian tersebut sering diestimasikan dengan melakukan pengukuran berulang atas kuantitas yang diukur.

LANGKAH – LANGKAH METODE ILMIAH
  • Perumusan Masalah
Perumusan masalah adalah langkah awal dalam melakukan kerja ilmiah. Masalah adalah kesulitan yang dihadapi yang memerlukan penyelesaiannya atau pemecahannya. Masalah penelitian dapat di ambil dari masalah yang ditemukan di lingkungan sekitar kita, baik benda mati maupun makhluk hidup.
Untuk dapat merumuskan permasalahan dengan tepat, maka perlu melakukan identifikasi masalah. Agar permasalahan dapat diteliti dengan seksama, maka perlu dibatasi. Pembatasan diperlukan agar kita dapat fokus dalam menyelesaikan penelitian kita.
  • Perumusan Hipotesis
Ketika kita mengajukan atau merumuskan pertanyaan penelitian, maka sebenarnya pada saat itu jawabanya sudah ada dalam pikiran. Jawaban tersebut memang masih meragukan dan bersifat sementara, akan tetapi jawaban tersebut dapat digunakan untuk mengarahkan kita untuk mencari jawaban yang sebenarnya. Pernyataan yang dirumuskan sebagai jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian disebut sebagai hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian dapat juga dikatakan sebagai dugaan yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah sebelum dibuktikan kebenarannya. Oleh karena berupa dugaan maka hipotesis yang kita buat mungkin saja salah.
  • Perancangan Penelitian
Sebelum dilakukan penelitian terlebih dahulu harus dipersiapkan rancangan penelitiannya. Rancangan penelitian ini berisi tentang rencana atau hal-hal yang harus dilakukan sebelum, selama dan setelah penelitian selesai. Metode penelitian, alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian juga harus disiapkan dalam rancangan penelitian.
Penelitian yang kita lakukan dapat berupa penelitian deskriptif maupun penelitian eksperimental. Penelitian deskripsi merupakan penelitian yang memberikan gambaran secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta dan sifat-sipat objek yang diselidiki. Contoh dari penelitian deskriptif, misalnya penelitian untuk mengetahui populasi hewan komodo yang hidup di Pulau komodo pada tahun 2008.
Adapun penelitian eksperimental merupakan penelitian yang menggunakan kelompok pembanding. Contoh penelitian eksperimental, misalnya penelitian tentang perbedaan pertumbuhan tanaman di tempat yang terkena matahari dengan pertumbuhan tanaman di tempat yang gelap.
  • Pelaksanaan Penelitian
Menguji hipotesis dengan melakukan percobaan atau penelitian.
  • Pelaporan Penelitian
Hasil penelitian adalah data yang objektif, tidak dipengaruhi subyektifitas ilmuwan peneliti dan universal (dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja akan memberikan hasil yang sama).


Senin, 01 April 2013

perbedaan karya ilmian , non ilmiah dan semi ilmiah


I. Karangan ilmiah
Karangan ilmiah adalah biasa disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.
Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Skripsi umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu, makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis oleh para pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian.
Tujuan karya ilmiah, antara lain:
   ·          Sebagai wahana melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.
  • Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.
  • Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara sekolah dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.
  • Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.
  • Melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian.
Manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah berikut:
· Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;
· Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;
· Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;
· Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis;
· Memperoleh kepuasan intelektual;
· Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan;
· Sebagai bahan acuan/penelitian pendahuluan untuk penelitian selanjutnya
II. Karangan Non Ilmiah
Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah, yaitu:
· Ditulis berdasarkan fakta pribadi,
· Fakta yang disimpulkan subyektif,
· Gaya bahasa konotatif dan populer,
· Tidak memuat hipotesis,
· Penyajian dibarengi dengan sejarah,
· Bersifat imajinatif,
· Situasi didramatisir,
· Bersifat persuasif.
· Tanpa dukungan bukti
Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah, yaitu:
· Dongeng
· Cerpen
· Novel
· Drama
· Roman.
III. Karangan Semi Ilmiah
Karya tulis semi ilmiah merupakan sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan yang ditulis dengan bahasa konkret dan formal, kata-katanya teknis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya. Karya tulis ini juga merupakan sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannya tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan dalam kary tulis ini. Karya tulis semi ilmiah biasanya digunakan dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.
IV. Perbedaan Karya Ilmiah dengan Nonilmiah
Istilah karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek.
1. Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi.
2. Karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
3. Dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
Selain karya ilmiah dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semiilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semiilmiah ini dengan karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semiilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semiilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semiilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semiilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semiilmiah.
Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semiilmiah, dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semiilmiah antara lain artikel, feature, kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.
Karya nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya nonilmiah bersifat, antara lain :
1. Emotif : merupakan kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi
2. persuasif : merupakan penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative
3. Deskriptif : merupakan pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan
4. Jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.
Simpulan
Karangan merupakan karya tulis yang disusun berdasarkan kumpulan-kumpulan fakta ataupun tidak dan dirangkum dalam sebuah karya tulis dengan menggunakan metode tertentu sesuai kebutuhan karangan tersebut, apakah penulis akan membuat karangan ilmiah, semi ilmiah/populer atau non ilmiah.
Karangan yang baik akan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, antara lain :
1. Karangan Ilmiah Yaitu :
a. Sistematis
b. Objektif
c. Cermat, tepat, dan benar
d. Tidak persuasif
e. Tidak argumentatif
f. Tidak emotif
g. Tidak mengejar keuntungan sendiri
h. Tidak melebih-lebihkan sesuatu.
2. Karangan Semi Ilmiah/Populer :
a. Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi
b. Fakta yang disimpulkan subyektif
c. Gaya bahasa formal dan popular
d. Mementingkan diri penulis
e. Melebihkan-lebihkan sesuatu
f. Usulan-usulan bersifat argumentatif, dan
g. Bersifat persuasif.
3. Karangan Non Ilmiah :
a. Ditulis berdasarkan fakta pribadi
b. Fakta yang disimpulkan subyektif
c. Gaya bahasa konotatif dan populer
d. Tidak memuat hipotesis
e. Penyajian dibarengi dengan sejarah
f. Bersifat imajinatif
g. Situasi didramatisir, dan
h. Bersifat persuasif.
V. Perbedaan Karya Ilmiah dengan Semi ilmiah
“Kecermatan dalam berbahasa mencerminkan ketelitian dalam berpikir” adalah slogan yang harus dipahami dan diterapkan oleh seorang penulis. Melalui kecermatan bahasa gagasan atau ide-ide kita akan tersampaikan. Oleh karena itu, penguasaan bahasa amat diperlukan ketika Anda menulis.
Bahasa dalam karangan ilmiah menggunakan ragam bahasa Indonesia resmi. Ciri-ciri ragam resmi yaitu menerapkan kesantunan ejaan (EYD/Ejaan Yang Disempurnakan), kesantunan diksi, kesantunan kalimat, kesantunan paragraph, menggunakan kata ganti pertama “penulis”, bukan saya, aku, kami atau kita, memakai kata baku atau istilah ilmiah, bukan popular, menggunakan makna denotasi, bukan konotasi, menghindarkan pemakaian unsur bahasa kedaerahan, dan mengikuti konvensi penulisan karangan ilmiah.
Terdapat tiga bagian dalam konvensi penulisan karangan ilmiah, yaitu bagian awal karangan (preliminaries), bagian isi (main body), dan bagian akhir karangan (reference matter).
Berbeda dengan karangan ilmiah, bahasa dalam karangan semiilmiah/ilmiah popular dan nonilmiah melonggarkan aturan, seperti menggunakan kata-kata yang bermakna konotasi dan figurative, menggunakan istilah-istilah yang umum atau popular yang dipahami oleh semua kalangan, dan menggunakan kalimat yang kurang efektif seperti pada karya sastra.
Berikut perbandingan istilah ilmiah dan semi ilmiah/popular.
Kata Ilmiah
· Metode
· Prosedur
· Sahih
· Fonem
· Populasi
· Stadium
· Karbon
· Produk
· Volume
· Makro
· Paradigma
Kata Populer
· Cara
· Langkah-langkah
· Sah
· Bunyi
· Penduduk
· Tahapan
· Orang
· Hasil
· Isi
· Besar
· Pandangan


Sumber : http://nadiachya.blogspot.com/2012/04/perbedaan-antara-karangan-ilmiah-non.html